Selasa, 19 Maret 2013

PERADABAN LEMBAH SUNGAI SHINDU DAN GANGGA



Materi Lengkap : Download 

Sungai Shindu dan Gangga
1.    Keadaan geografis
Daerah India merupakan suatu jazirah benua Asia yang disebut dengan anak benua. Disebelah utara daerah India terbentang pegunungan Himalaya yang menjadi pemisah antara india dan daerah-daerah lain di Asia.

Antara pegunungan Himalaya dan Hindu Kush terdapat celah Kaiber. Celah kaiber inilah yang dilalui masyarakat India untuk melakukan aktivitas hubugan dengan daerah-daerah lain di Asia. Melalui celah itu bangsa-bangsa lain memasuki  wilayah India seperti bangsa Aria, Laskar Cyrus Agung, Iskandar Zulkarnaen dan Timur Lenk.
Di tengah-tengah daerah India terdapat pegunungan Windya. Pegunungan ini membagi India menjadi dua bagian : India utara dan India selatan. Pada daerah India bagian utara mengalir mengalir sungai Shindu (Indus), Gangga, Yamuna, dan Brahmaputera. Daerah itu merupakan daerah subur sehingga sangat padat penduduknya.
India bagian selatan sangat berbeda keadaannya dengan India bagian utara. Daerahnya terdiri dari bukit-bukit dan gunung-gunung yang kering dan tandus. Dataran tinggi di daerah India bagian selatan diberi nama dataran tinggi Dekkan. Dataran tinggi Dekkan kurang mendapat hujan sehingga daerahnya terdiri atas padang rumput savanna yang amat luas.

b.      Peradaban Lembah Sungai Shindu
a.            Pusat Peradaban
Kota Mohenjo-Daro diperkirakan sebagai ibu kota daerah lembah sungai Shindu bagian selatan dan kota Harappa sebagai ibu kota lembah sungai Shindu bagian utara. Keduanya merupakan pusat peradaban bangsa India pada masa lampau.
b.           Tata Kota
Pembangunan kota Mohenjo-daro dan Harappa didasarkan atas suatu perencanaan tata kota yang pasti dan teratur baik. Jalan-jalan didalam kota sudah teratur dan lurus-lurus dengan lebarnya mencapai sekitar 10 m dan disebelah kanan-kiri jalan terdapat trotoar dengan lebar setengah meter. Gedung-gedung dan rumah tinggal serta pertokoan dibangun secara teratur dan berdiri kokoh. Gedung-gedung, dan rumah tinggal dan pertokoan itu sudah terbuat dari batu bata lumpur.
Wilayah kota dibagi atas beberapa bagian atau blok. Masing-masing bagian atau blok berbentuk bujur sangkar atau empat persegi panjang. Tiap-tiap blok dibagi oleh lorong-loronr yang satu sama lainnya saling berpotongan. Dan juga dibangun gedung-gedung sebagai tempat untuk menjalankan pemerintahan. Lorong-lorong dan jalan-jalan dilengkapi dengan saluran air, sebagai tempat menyalurkan air dari rumah tangga ke sungai. Saluran-saluran itu dijaga dengan baik kebersihannya sehingga tetap berfungsi dengan baik.
c.            Sanitasi (kesehatan)
Cara-cara pembangunan rumah yang telah memperhatikan faktor-faktor kesehatan dan kebersihan lingkungan. Kamar-kamar dilengkapi dengan jendela-jeldela yang lebar dan berhubungan langsung dengan udara bebas, sehingga perputaran dan pergantian udara cukup lancar. Disamping itu, saluran pembuangan limbah dari kamar mandi dan jamban yang ada didalam rumah dihubungkan langsung dengan jaringan saluran umum yang dibangun dan mengalir dibawah jalan, dimana pada setiap lorong terdapat saluran air menuju ke sungai.
d.           Sistem Pertanian dan Pengairan
Daerah-daerah yang berada disepanjang lembah sungai Shindu merupakan daerah-daerah yang subur. Disepanjang lembah sungai Shindu itu, masyarakat mengusahakan pertanian, sehingga pertanian menjadi mata pencaharian untuk masyarakat india. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat telah berhasil menyalurkan air yang mengalir di lembah sungai Shindu sampai jauh kedaerah pedalaman. Usaha ini dilakukan dengan membuat saluran-saluran irigasi dan mulai membangun daerah pertanian di wilayah pedalaman.
Pembuatan saluaran irigasi dan pembangunan daerah-daerah pertanian menunjukan bahwa masyarakat lembah sungai Shindu telah memiliki tingkat peradaban yang tinggi. Hasil-hasil pertanian yang utama adalah : padi, gandum, gula, jelai, kapas dan teh.

e.            Teknologi
Mereka telah mampu membuat barang-barang terbuat dari emas dan perak, alat-alat rumah tangga, alat-alat pertanian, kain dari kapas, serta bangunan-bangunan. Kemampuan ini dapat diketahui melaui peninggalan-peninggalan budaya yang temukan, seperti banguanan kota Mahenjo-daro dan Harappa, berbagai macam patung, pehiasan emas perak, dan berbagai macam materai dengan lukisannya yang bermutu tinggi.
Juga ditemukan alat-alat peperangan seperti tombak, pedang, dan anak panah. Disamping itu, ditemukan alat-alat peninggalan budaya berupa barang-barang dari tanah liat, terutama peralatan rumah tangga Perekonomian
Masyarakat lembah sungai Shindu sudah mengadakan hubungan dagang dengan bangsa Sumeria dan Mesopotania dan bangsa-bangsa dari negeri-negeri lainnya. Hal itu dibuktikan dengan penemuan benda-benda dari lembah sungai Shindu di Sumeria.
Kota Sutkagedon memainkan peranan penting dalam perdagangan antara lembah sungai Shindu dan bangsa Sumeria. Kota Sutkagedon merupakan pembatasan yang terlatak di Balukhistan. Perdagangan Sumeria melalui Sutkagedon dapat dilaksanakan dengan dua cara. Pertama, dengan jalan laut dapat dibuktikan melalui sebuah material dan pecahan benda-benda  yang memuat gambar perahu layar. Kedua, dengan jalan darat yang dilaksanakan baik dengan mempergunakan tenaga kuda maupun unta. Hal ini dibuktikan  dengan ditemukannya terracotta(tanah liat yang dibakar) kereta kecil.
f.             Pemerintahan
Candragupta Maurya 
Candragupta Maurya menjadi raja pertama Kerajaan Maurya. Pada masa pemerintahannya, daerah kekuasaan Kerajaan Maurya diperluas ke arah timur, sehingga sebagian besar daerah India bagian utara menjadi bagian dari kekuasaannya. Dalam waktu singkat, wilayah kerajaan Maurya sudah mencapai daerah yang sangat luas, yaitu daearah Kashmir disebelah barat dan lembah sungai Gangga disebelah timur.
Ashoka  
Pada masa pemerintahan Ashoka (268-232SM) cucu Candragupta Maurya, kerajaan Maurya mengalami masa yang gemilang. Kalingga dan Dekkan berhasil dikuasai. Namun, setelah ia menyaksikan korban bencana perang yang maha dahsyat di Kalingga, timbul penyesalan. Sejak saat itu, ia tidak lagi melakukan peperangan, bahkan ia mencita-citakan perdamaiandan kebahagiaan umat manusia.
Setelah Ashoka meninggal, kerajaannya terpecah belah menjadi kerajaan kecil. Peperangan sering terjadi dan baru pada abad ke-4 M muncul seorang raja yang berhasil mempersatukan kerajaan yang terpecah belah itu. Maka berdiri Kerajaan Gupta dengan Candragupra I sebagai rajanya.
g.            Kepercayaan
Kepercayaan masyarakat lembah sungai Shindu bersifat polytheisme (memuja banyak dewa). Dewa-dewa yang dipujanya seperti dewa bertanduk besar, dan dewa perempuan yang melambangkan kemakmuran serta kesuburan (dewi ibu).
Masyarakat lembah sungai Shindu juga menyembah binatang-binatang seperti buaya, gajah dan lain-lain, serta menyembah pohon seperti pohon pipal (beringin). Pemujaan tersebut dimaksudkan sebagai tanda terima kasih terhadap kehidupan yang dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian.
h.           Peninggalan Budaya
Dari hasil penggalian di kota Harappa ditemukan beberapa arca yang masih sempurna bentuknya dan dua buah torso (arca yang telah hilang kepalanya). Salah satu torso mula-mula bertangan empat dan berkepala tiga. Berdiri diatas kaki kanan dengan kaki kiri terangkat. (patung ini mirip dengan patung siwa Nataraya dari zaman kesenian Cola, India Selatan).
Arca   
Di kota Mohenjo-daro ditemukan arca seorang pendeta berjanggut. Arca ini memakai pita yang melingkari kepalanya dan berpakaian baju yang berhiaskan gambar-gambar yang menyerupai daun semanggi. Hiasan dengan daun semanggi juga lazim dipakai di daerah Mesopotamia, Mesir, dan Kreta. Arca yang lain ditemukan berbentuk gadis penari yang terbuat dari perunggu
Alat-alat rumah tangga dan senjata  
Masyarakat lembah sungai Shindu telah mengenal teknik perundagian. Peralatan-peralatan rumah tangga dan senjata telah tebuat dari benda-benda logam seperti perunggu.                                              Pengetahuan teknik perundagian ini tidak dikenal oleh setiap orang sehingga mendapatkan benda-benda tersebut muncul sistem perekonomian.           
                                                                                              
c.       Peradaban Lembah Sungai Gangga
a.            Pusat Peradaban
Lembah Sungai Gangga terletak antara Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Windya-Kedna. Sungai itu bermata air di Pegunungan Himalaya dan mengalir melalui kota-kota besar seperti Delhi, Agra,  Allahabad, Patna, Benares, melalui wilayah Bangladesh dan bermuara di teluk Benggala. Sungai Gangga bertemu dengan sungai Kwen Lun. Dengan keadaan alam seperti ini tidak heran bila Lembah Sungai Gangga sangat subur.
Pendukung peradaban Lembah Sungai Gangga adalah bangsa Aria yang temasuk bangsa Indo German. Mereka datang dari daerah Kaukasus dan menyebar ke arah timur. Kebudayaan lembah sungai Gangga merupakan kebudayaan campuran antara kebudayaan bangsa Aria dengan bangsa Dravida. Kebudayaan campuran itu lebih dikenal dengan sebutan kebudayaan Hindu. Hal ini disesuaikan dengan nama daerah tempat bercampurnya kebudayaan, yaitu daerah Shindu dan Hindustan.
Peradaban Lembah Sungai Gangga meninggalkan jejak yang sangat penting dalam sejarah umat manusia kini. Di tempat ini muncul dua agama besar di dunia, yaitu agama Hindu dan Buddha. Agama Hindu muncul lebih dahulu daripada agama Buddha. Peradaban dan kehidupan bangsa Hindu tersebut tercantum dalam kitab suci agama Hindu, yaitu kitab Weda, Brahmana, dan Upanisad. Agama Hindu merupakan perwujudan dari sistem kepercayaan peradaban bangsa Hindu. Sungai Gangga dianggap sebagai tempat keramat dan suci bagi penganut Hindu India, airnya dianggap dapat menyucikan diri manusia dan menghapus semua dosanya. Mereka memuja banyak dewa (polytheisme).
Sementara itu, agama Buddha lahir sebagi bentuk reaksi beberapa golongan atas ajaran kaum Brahmana. Golongan ini dipimpin oleh Siddharta Gautama. Ia adalah seorang putra mahkota kerajaan Kapilawastu yang meninggalkan hidup penuh kemewahan dan menempuh jalan kesederhanaan untuk menghindari penderitaan. Setelah sekian lama pencarian dengan jalan bertapa, akhirnya Siddharta mendapat sinar terang menjadi sang Buddha yang berarti “Yang Disinari”. Lambat laun agama Buddha mulai diterima masyarakat india dan menyebar ke berbagai belahan dunia. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, kedua agama ini memiliki pengaruh yang cukup besar dalam perkembangan sejarah dan budaya Indonesia di masa awal.
b.           Pemerintahan
Setelah runtuhnya kerajaan Maurya, keadaan menjadi kacau akibat terjadinya peperangan antara kerajaan-kerajaan kecil yang ingin berkuasa. Keadaan ini baru dapat diamankan kembali setelah munculnya kerajaan Gupta.
Kerajaan Gupta  
Kerajaan Gupta didirikan oleh Raja Candragupta I (320-330 M) dengan pusatnya dilembah sungai gangga. Pada masa pemerintahannya agama Hindu dijadikan agama Negara, tetapi agama Buddha tetap dapat berkembang.
Kerajaan Gupta mencapai masa yang paling gemilang ketika Raja Samudra Gupta (cucu Candragupta I) berkuasa. Seluruh lembah sungai Gangga dan sungai Shindu berhasil dikuasainya. Ia menetapkan kota Ayodhia sebagai ibu kota Kerajaanya.
Raja Samudragupta kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Candragupta II (375-415 M). Candragupta II terkenal dengan Wikramaditiya. Seperti Raja Gupta lainnya ia beragama Hindu. Namun ia tidak mempersulit dan tidak memendang rendah agama hindu. Bahkan pada masa pemerintahannya berdiri universitas Gupta sebagai perguruan tinggai agam Buddha di Nalanda.
Dibawah pemerintahan Candragupta II kehidupan rakyat makmur dan sejahtera, banyak gedung indah didirikan. Perdagangan dan pelayaran makin maju. Kesenian, ilmu pengetahuan, dan pendidikan berkembang pesat. Kesusastraan mengalami masa yang gemilang, bahkan pada masa ini terkenal seorang pujangga yang bernama Kalidasa dengan karangannya berjudul Syakuntala. Perkembangan seni pahat dan seni patung mencapai  kemajuan yang pesat, sehingga pahatan-pahatan dan patung-patung terkenal menghiasi Kuil-kuil di Syanta.
Setelah meninggalnya raja Candragupta II, kerajaan Gupta mulai mundur. Hampir dua abad india mengalami masa kegelapan dan baru pada abad -7 M tampil seorang raja kuat yang bernama Harshawardana.
Kerajaan Harsha
Ibukota kerajaan Harsha adalah Kanay. Salah seorang rajanya bernama Harshawardana adalah seorang pujangga besar. Pada zamannya kesusastraan dan pendidikan berkembang pesat. Pujangga yang terkenal pada masa kekuasaannya bernama pujangga Bana dengan buku karangannya berjudul Harshacarita.
Pada mulanya raja Harsha memeluk agama Hindu, tapi kemudian memeluk agama Buddha. Wihara dan Stupa banyak dibangun di tepi Sungai Gangga, juga tempat-tempat penginapan dan rumah-rumah sakit didirikan untuk memberikan pertolongan dengan Cuma-Cuma. Candi-candi yang rusak diperbaiki, bahkan candi-candi baru juga dibangun.
Setelah masa pemerintahan Raja Harsahawardan hingga abad ke-11 M tidak pernah diketahui adanya raja-raja yang kerkuasa. India mengalami masa kegelapan.
c.            Bentuk Kebudayaan Lembah Sungai Gangga
Perkembangan kebudayaan masyarakat lembah sungai Gangga mengalami banyak kemajuan pada bidang kesenian. Kesusasteraan, seni pahat dan seni patung berkembang pesat. Kuil-kuil yang indah dari Syanta dibangun.
Daerah-daerah yang diduduki oleh bangsa Indo-arya sering disebut dengan Arya Varta (Negeri Bangsa Arya) atau Hindustan (tanah milik bangsa Hindu). Bangsa Dravida mengungsi ke daerah selatan, kebudayaannya kemudian dikenal denga kebudayaan Dravida.



5 komentar :

  1. ga' bisa di copy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba perhatikan di bagian atas...
      Ada file download situ...
      OK?

      Hapus
  2. Sngt membantu untuk kliping gua
    thx

    BalasHapus
  3. Izin disedot gan :D

    BalasHapus

DILARANG MENGGUNAKAN SARA DAN BERKOMENTARLAH DENGAN BAIK